BANJARMASIN- Banyak masyarakat panik ketika mendapat diagnosis demam berdarah dengue (DBD), terutama saat hasil laboratorium menunjukkan trombosit menurun. Kondisi ini kerap memicu upaya instan untuk menaikkan trombosit, seperti mengonsumsi jus jambu merah, sari kurma, hingga jus daun pepaya.
Padahal, secara medis, penurunan trombosit merupakan bagian dari perjalanan alami infeksi dengue.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Meldy Muzada Elfa, menjelaskan bahwa virus dengue memengaruhi tubuh dengan menekan produksi trombosit di sumsum tulang serta meningkatkan penghancurannya di dalam tubuh. Pada fase tertentu, juga terjadi kebocoran plasma yang menjadi ciri khas penyakit ini.
"Penurunan trombosit bukan karena kurang konsumsi makanan tertentu, melainkan proses alami penyakit,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Ia menambahkan, fase paling kritis pada dengue justru sering terjadi saat demam mulai turun. Pada fase ini, jumlah trombosit biasanya berada di titik terendah sehingga pasien memerlukan pemantauan ketat.
Meski demikian, kondisi tersebut umumnya akan membaik seiring pemulihan tubuh. Trombosit akan meningkat secara alami ketika sumsum tulang kembali berfungsi normal dan infeksi mulai mereda. Artinya, kenaikan trombosit bukan semata-mata dipengaruhi oleh konsumsi makanan atau minuman tertentu.
"Trombosit akan naik ketika pasien melewati fase kritis, bukan karena intervensi instan,” kata dr. Meldy.
Ia menegaskan, konsumsi jus jambu merah, sari kurma, atau bahan alami lainnya tetap diperbolehkan untuk membantu menjaga kondisi tubuh. Namun, masyarakat diimbau tidak menganggapnya sebagai terapi utama.
Lebih penting, lanjutnya, adalah mengenali tanda bahaya dengue. Gejala seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, hingga penurunan kesadaran harus segera ditangani tenaga medis.
Selain itu, pemantauan rutin oleh tenaga kesehatan, termasuk pemeriksaan laboratorium berkala, menjadi faktor utama dalam penanganan pasien DBD.
"Yang harus dikejar bukan sekadar angka trombosit, tetapi memastikan pasien melewati fase kritis dengan aman,” tegasnya.
Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan tidak panik berlebihan, namun tetap waspada dan mengambil langkah penanganan yang benar. (rls/jp).

















































